Menjadi pakar IT part2


Pendidikan formal, training, atau belajar sendiri? Ada orang-orang yang memberi contoh bahwa pendidikan formal di dunia IT tidak diperlukan karena bisa dipelajar sendiri. Kemudian mereka memberikan contoh-contoh jagoan IT di sekitar mereka yang tidak memiliki pendidikan formal di bidang IT. Bill Gates drop out dari Harvard. Steve Jobs tidak pernah menyelesaikan college. Masih banyak contoh lainnya. Tapi, apakah benar bahwa pendidikan formal tidak dibutuhkan? Orang lupa bahwa untuk satu Bill Gates yang sukses, mungkin ada 10 ribu dropout yang gagal. Tentu saja berita mengenai dropout yang gagal tidak menarik untuk diceritakan sehingga dapat dianggap natural saja. Maka akan aneh jika kesuksesan dropout dianggap normal. Saya masih termasuk yang beranggapan bahwa pendidikan formal itu dibutuhkan karena dia memberikan fondasi, meskipun itu bukan menjadi jaminan kesuksesan. Lantas bagaimana dengan orang yang tidak berpendidikan formal? Mereka bisa saja berhasil, asal mau berusaha lebih keras. Salah satu jalur yang dapat ditempuh adalah dengan mengikuti training, bahkan training di beberapa tempat malah memiliki nilai (value) yang lebih tinggi dibandingkan pendidikan formal biasa. Hal ini dibuktikan dengan lebih diakuinya sertifikat vendor (yang notabene terkait dengan training, bukan dengan pendidikan formal) dibandingkan dengan ijasah perguruan tinggi. Saya mungkin termasuk kategori yang menempuh jalur belajar sendiri. Saya tidak punya sertifikat, akan tetapi malah mengeluarkan sertifikat. (Lihat BRcertified.com.) Apakah Bill Gates punya sertifikat dari Microsoft?) Pendidikan formal IT saya sangat minim karena ketika saya kuliah lebih banyak ilmu elektronikanya. Kalau elektronika dapat dianggap sebagai IT, maka saya memiliki pendidikan formal IT. Tentu saja latar belakang pendidikan elektronika saya sangat membantu dalam memahami IT. Namun kalau diurut-urut, pendidikan formal programming saya hanyalah pemrograman dalam bahasa FORTRAN. Sementara itu penguasaan bahasa pemrograman lainnya (perl, C, C++, Java, dan masih banyak lainnya) berasal dari belajar sendiri. Dalam belajar sendiri saya mencoba mencari (buku) referensi yang terbaik, referensi yang digunakan oleh para jagoan lainnya. (Pendekatan ini mungkin belum tentu cocok untuk Anda, tetapi inilah “aliran” atau “madzhab” yang saya pilih.) Caranya adalah dengan mencari informasi di milis, situs web, dan tanya ke orang lain. Kadang buku referensi ini sukar dimengerti, akan tetapi lama kelamaan saya menjadi lebih mengerti mengapa referensi tersebut digunakan. Jadi saya tidak mencari buku “xyz for dummies” atau buku terjemahan yang malah membingungkan. Jika ingin berguru, cari guru yang terbaik. Jangan cari guru yang biasa-biasa saja. Contoh buku-buku yang saya gunakan ketika belajar misalnya: • Buku “camel” (terbitan O’Reilly) saya gunakan untuk belajar bahasa perl. Saya pilih buku ini karena Larry Wall yang menulis buku ini dan dia kebetulan adalah pengarang bahasa perl. Lagian, waktu itu ini adalah satu-satunya buku perl yang ada. hi hi hi. • Buku “dragon” (karangan Aho dan kawan-kawan) untuk belajar compiler. • Buku karangan Lippman (C++ Primer) ketika belajar C++. (Yang ini tidak ada nama binatangnya. ha ha ha.) Kelebihan penggunaan buku-buku yang sama dengan buku yang digunakan oleh pakar di luar negeri adalah kita bisa nyambung kalau berdiskusi. Jadi tidak ada bedanya antara mereka dan saya. Catatan mengenai nama buku. Biasanya buku diberi julukan berdasarkan gambar sampul (cover) dari buku itu. Sebagai contoh buku “camel” memiliki sampul bergambar onta. Bahasa pemrograman apa yang harus saya kuasai? Setiap waktu selalu muncul bahasa pemrograman (dan metodologi) yang baru. Pada saat saya belajar pemrograman, bahasa FORTRAN dan pembuatan flow chart merupakan hal yang wajib diketahui oleh seorang programmer. Kalau sekarang mungkin bahasa Java atau C/C++ yang lebih dicari. Demikian pula metodologi yang menggunakan agile atau extreme programming mungkin sedang naik daun. Untuk pengembangan yang berbasis web, bahasa PHP dan ASP yang sedang populer. (Saya sendiri lebih suka menggunakan bahasa perl.) Jadi bagaimana? Apakah Anda perlu mengetahui semua bahasa yang baru? Jawabannya adalah tidak. Hanya orang “gila” saja yang melakukan hal itu. (Dalam hal ini mungkin saya termasuk orang yang “gila” karena saya senang mencoba bahasa-bahasa yang baru.) Hal yang paling penting adalah dasar-dasar dari pemrograman. Bahasa hanya sekedar “alat komunikasi.” Jika Anda menguasai C, misalnya, maka tidaklah terlalu sukar untuk menguasai bahasa lain (yang filosofinya sama atau mirip). Namun jika Anda tidak memiliki dasar pemrograman, maka akan sulit bagi untuk berkembang. Sebagai contoh, saya menguasai bahasa perl. Ketika muncul bahasa PHP maka dengan mudah saya mengerti karena sedikit banyak prinsipnya tidak jauh berbeda dengan bahasa perl. Penutup Tulisan ini mencoba menjawab salah satu pertanyaan yang sering diajukan oleh banyak orang (mahasiswa, peserta training / seminar, media massa). Daripada saya jawab satu persatu, saya putuskan untuk menjawabnya dalam sebuah artikel di web ini saja. Saya yakin masih banyak pertanyaan seputar topik ini, tetapi mudah-mudahan artikel yang singkat ini dapat menjawab sebagian pertanyaan yang Anda miliki.

Sumber : Budi Rahardjo (aka Mr. GBT / Petualang Blog)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s